Bernilai Ratusan Juta Dollar, AS Rencanakan Misi Penelitian 'Gila' Guna Kurangi Suhu Sinar Matahari

- 4 Mei 2021, 19:10 WIB
Ilustrasi Matahari.
Ilustrasi Matahari. /Pixabay/ipicgr.

Namun, tindakan lambat dari beberapa negara dalam mengatasi perubahan iklim dengan cara tersebut, membuat para ilmuwan menawarkan pilihan lain dengan cara mengurangi suhu sinar matahari.

“Mengingat pentingnya krisis perubahan iklim, teknik geo-solar perlu dipelajari lebih lanjut,” kata Prof Marcia McNutt, presiden akademi Harvard University, seperti dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari The Vocket.

Menurut McNutt, seperti halnya kemajuan dalam kecerdasan buatan atau rekayasa genetika, sains juga perlu melibatkan masyarakat, apakah kita perlu melakukan perlu melakukan peredupan matahari atau rekayasa geo-solar.

Baca Juga: Pertanyakan Pengganti Novel Baswedan Jika Ia Dipecat dari KPK, Said Didu: Siapa Saja yang Bisa Jadi Penyidik?

Prof Chris Field dari Stanford University mengatakan, bahwa program riset geo-engineering yang akan dilakukan Amerika Serikat harus membantu masyarakat dalam mengambil keputusan yang lebih akurat.

“Berdasarkan semua bukti dari ilmu sosial, ilmu alam, dan teknologi, program penelitian ini bisa menunjukkan bahwa geo-engineering tidak bisa dipertimbangkan lebih jauh, atau disimpulkan perlu upaya tambahan,” ujarnya.

Sebuah laporan yang dirilis oleh The Guardian mengatakan, program tersebut adalah bagian kecil dari pendanaan Amerika Serikat untuk meneliti dan mempelajari lebih lanjut tentang perubahan iklim.

Baca Juga: PDIP Kritik Anies Soal Pasar Tanah Abang, Cipta: Asal Bacot, jika Mau Adil Kritik Kerumunan Presiden di NTT

Sementara itu, Silvia Ribeiro, direktur grup kampanye Amerika Latin ETC, yakin rekayasa geo-solar terlalu berisiko dan tidak memengaruhi perubahan iklim.

"Geo-engineering adalah proposal teknologi yang sangat berisiko dan tidak adil. Laporan yang meminta lebih banyak penelitian tentang teknologi yang tidak kita inginkan pada dasarnya cacat,” kata Silvia Ribeiro.***

Halaman:

Editor: Ramadhan Dwi Waluya

Sumber: The Vocket


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X