Pertama Kalinya Negara Arab Terpecah dalam Sikapi Israel-Palestina, hingga Berselisih dengan Warganya Sendiri

- 18 Mei 2021, 11:39 WIB
Ilustrasi - Kerusakan kendaraan akibat konflik antara Israel dan Palestina.
Ilustrasi - Kerusakan kendaraan akibat konflik antara Israel dan Palestina. /REUTERS/Ronen Zvulun

PR DEPOK - Negara-negara Arab untuk pertama kalinya terpecah menjadi dua dalam hal menyikapi pengeboman yang dilakukan Israel di Gaza, Palestina, yang sudah berlangsung selama lebih dari satu minggu.

Sementara beberapa negara dengan mayoritas muslim, seperti Turki dan Iran, mengecam aksi penyerangan terhadap Masjid Al Aqsa, negara-negara Arab yang telah berdamai dengan Israel justru tampak hening tak memberikan kecaman atau tanggapan apapun.

Seperti diketahui, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, dan Sudan, telah menormalisasi hubungan mereka dengan Israel belum lama ini, yakni di tahun-tahun terakhir pemerintahan Donald Trump.

Baca Juga: Usai Resmi Ditahan sebagai Tersangka Dugaan Terorisme, Munarman Kini Bisa Dikunjungi Kuasa Hukum

Sikap diam yang ditunjukkan sebagian negara Arab ini berujung pada perselisihan negara tersebut dengan rakyatnya sendiri yang justru begitu vokal dalam membela Palestina dan mengutuk Israel.

"Sungguh luar biasa, terkhusus dengan penolakan dari warga Emirat, bahwa mereka (negara-negara Arab) tidak mengeluarkan satu kritik pun tentang apa yang terjadi di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki," ujar Direktur Dewan untuk Pemahaman Arab-Inggris, Christ Doyle, seperti dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari The Guardian.

Menurutnya, sikap diam beberapa negara Arab ini merupakan sinyal dari kepemimpinan Emirat bahwa negara mereka tidak akan terombang-ambing dengan aliansi yang berkembang tentang Israel, yang mereka anggap akan berharga untuk rencana negara-negara Arab tersebut ke depannya.

Baca Juga: China Desak AS Bersikap Adil Soal Konflik Israel dan Palestina, Berikut 4 Usulan yang Disampaikan ke PBB

Bahkan, meski negara-negara Arab ini harus melawan Turki, Iran, serta kelompok Ikhwanul Muslimin, sikap diam tetap menjadi pilihannya.

"Ada banyak ruang untuk membuat pernyataan yang sangat mendukung hak-hak rakyat Palestina, tanpa mendukung Hamas. Tapi mereka belum melakukannya," tutur Christ Doyle.

Halaman:

Editor: Annisa.Fauziah

Sumber: The Guardian


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X