Tari Merak Jadi Warisan Tak Benda di Indonesia, Ternyata Ini Asal Usul Gerakan dan Sejarahnya

- 20 September 2022, 13:38 WIB
Simak informasi mengenai asal usul gerakan dan sejarah Tari Merak yang menjadi Warisan Tak Benda di Indonesia.
Simak informasi mengenai asal usul gerakan dan sejarah Tari Merak yang menjadi Warisan Tak Benda di Indonesia. /bandung.go.id.

PR DEPOK – Tari Merak jadi Warisan Tak Benda di Indonesia, ternyata ini asal-usul gerakan dan sejarahnya di Tanah Air.

Siapa yang tidak tahu Tari Merak? Ya, Tari Merak adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jawa barat, dan sekarang ini sudah menjadi warisan Tak Benda di Indonesia serta mendapatkan penghargaan pada tahun 2020.

Adapun asal-usul dan sejarah gerakan Tari Merak ini pertama kali diciptakan oleh seniman dan koreografer tari asal Jawa Barat, yaitu Raden Tjetje Soemantri, di mana gerakannya sendiri diambil dari keindahan burung merak.

Baca Juga: Cairkan BSU 2022 di Kantor Pos, Simak Mekanisme Pencairannya, BLT Subsidi Gaji Rp600.000 akan Diantar ke Rumah

Tari Merak ini pada mulanya diciptakan oleh Tjetje Soemantri hanya untuk menghibur para delegasi Konferensi Asia Afrika dalam acara resepsi di Bandung pada tahun 1955.

Tari Merak adalah salah satu jenis tarian kreasi baru yang mengekspresikan kehidupan burung merak, mulai dari tata cara dan gerakan dari burung merak, sampai akhirnya diangkat menjadi pentas seni tradisional.

Pada awal diciptakannya gerakan Tari Merak karya Tjetje Soemantri, ternyata hanya dipertunjukkan sebanyak lima kali, yakni dalam rangka kegiatan KAA di halaman belakang Gedung Pakuan, Bandung pada tahun 1955, di Hotel Orient, Bandung pada tahun 1955, acara penyambutan kehadiran Voroshilof pada tahun 1957, penyambutan Presiden USSR (Rusia) di Gedung Pakuan tahun 1958, Bandung, di Hotel Savoy Horman, dan pertunjukkan tari YPK di tahun 1958.

Baca Juga: Badai PHK Karyawan Shopee, Kerugian Mencapai Rp13,9 triliun

Sepeninggal Raden Tjetje Soemantri pada tahun 1963, Tari Merak tersebut pada akhirnya lebih disempurnakan lagi oleh muridnya yang bernama Irawati Durban, dengan mengolah kembali struktur koreografi tariannya.

Halaman:

Editor: Gracia Tanu Wijaya

Sumber: bandung.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah