Sebut Hilangnya Hasyim Asy'ari di Kamus Sejarah Masalah Besar, Mardani Ali: Perlu Investigasi Terkait Motifnya

- 22 April 2021, 21:39 WIB
Mardani Ali Sera.
Mardani Ali Sera. /Instagram @mardanialisera

PR DEPOK - Kabar hilangnya profil pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari, dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I hingga kini masih disoroti banyak pihak. 

Meski telah diklarifikasi langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) lewat siaran persnya, tapi masih banyak pihak yang penasaran dengan motif di balik peristiwa tersebut. 
 
Salah satu yang masih vokal menyuarakan pendapatnya soal masalah itu adalah Anggota Komisi II DPR Fraksi PKS, Mardani Ali Sera. 
 
 
Mardani Ali menilai, hilangnya profil tokoh pendiri NU di Indonesia tersebut merupakan masalah yang besar. 
 
Oleh sebab itu, menurutnya masalah itu tidak bisa hanya selesai dengan kata maaf saja. 
 
Cuitan Tifatul Sembiring.
Cuitan Tifatul Sembiring.
 
"Fakta hilangnya KH Hasyim Asyari dalam buku Sejarah adalah perkara besar. Tidak boleh selesai dengan minta maaf," ujar Mardani Ali Sera seperti dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari akun Twitter @MardaniAliSera. 
 
 
Mardani berpendapat, harus dilakukan penyelidikan yang menyeluruh untuk menyelesaikan masalah tersebut. 
 
Hal itu dilakukan menurutnya agar motif di balik hilangnya profil KH Hasyim Asy'ari bisa terungkap.
 
"Perlu dilakukan investigasi menyeluruh terkait motif di balik hilangnya nama pahlawan nasional sekaligus pendiri ormas NU tsb," ucapnya. 
 
 
Diketahui sebelumnya, usai ramai menuai polemik di masyarakat terkait hilangnya nama tokoh KH Hasyim Asy'ari, pihak Kemendikbud melalui Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid memberikan klarifikasi. 
 
Menurut Hilmar, naskah yang menyebar di masyarakat itu sebenarnya tidak pernah diterbitkan secara resmi oleh Kemendikbud. 
 
Bahkan ia menuturkan, Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tersebut disusun sebelum Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memimpin Kemendikbud.
 
 
"Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat," kata Hilmar melalui siaran persnya di laman resmi Kemendikbud, Senin 19 April 2021.
 
Kemudian terkait hilangnya profil pendiri NU, Hilmar mengungkapkan bahwa Kemendikbud tidak pernah mengenyampingkan tokoh sejarah Indonesia. 
 
Kemendikbud justru menghormati sosok KH Hasyim Asy'ari, dengan salah satu buktinya adalah didirikannya Museum Islam Indonesia Hasyim Asy'ari di Jombang oleh Kemendikbud.
 
 
"Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi tokoh dan para penerusnya," ucap sejarawan tersebut.***

Editor: Ahlaqul Karima Yawan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X