Sebut Biarkan Orang Kanan Perang, Dedek Prayudi: Mereka Gak Cukup Bunuh Warga Sipil, Mereka Ingin Dunia Perang

20 Mei 2021, 09:10 WIB
Mantan Juru Bicara (Jubir) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi atau Dedek Uki.* /Instagram @uki_dedek/

PR DEPOK - Mantan Juru Bicara (Jubir) PSI, Dedek Prayudi memberikan tanggapannya terkait konflik antara Israel dengan Palestina beberapa minggu terakhir.

Menurutnya, biarkan saja Israel dengan Palestina berperang, sebagai manusia sudah sepatutnya membela kemanuniasaan saja.

Dedek juga mengatakan bahwa kedua negara itu disebutnya tidak merasa cukup dengan membunuh warga sipil, tetapi juga ingin dunia berperang untuk mereka.

Baca Juga: Berubah Haluan, Presiden AS Joe Biden Desak Perdana Menteri Israel Turunkan Intensitas Konflik di Palestina

Pernyataan itu disampaikan Dedek Prayudi melalui akun Twitter pribadinya @Uki23, pada Kamis, 20 Mei 2021.

"Biarin aja orang-orang kanan itu perang. Kita bela kemanusiaan aja. Humanity does NOT take side. Mereka gak merasa cukup saling bunuhin warga sipil. Mereka juga mau dunia berperang buat mereka," ujar Dedek Prayudi, seperti dikutip Pikiranrakyat-Depok.com.

Sebelumnya, ia juga sempat mengulas terkait tokoh legendaris perjuangan kemerdekaan Palestina yang dianggapnya alergi terhadap Hamas.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Palestina-Israel Bukan Konflik Agama, Teddy: Siap-siap Dimaki Para ‘Penyembah Khilafah’

"Yasser Arafat, tokoh legendaris perjuangan kemerdekaan Palestina, ketua PLO selama puluhan tahun sejak 1969 alergi dengan HAMAS," kata Dedek Prayudi.

Ia pun mempertanyakan keberpihakan Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu. Dedek menuturkan bahwa Tiongkok membela Palestina dan USA membela Israel.

"Netanyahu, bos nya partai Likud (PKS nya Israel) what do you expect? Sementara Tiongkok membela Palestina dan USA membela Israel. Still taking side?," ujar Dedek Prayudi.

Cuitan Dedek Prayudi.

Lebih lanjut, Dedek juga mengulas kembali terkait piagam Hamas tahun 1988 yang disebut menginginkan negara islamis saat itu menolak ideologi nasionalis sekulernya PLO (Palestine Liberation Organization).

"Piagam HAMAS 1988 yang menginginkan negara Islamis menolak ideologi nasionalis sekuler nya PLO," ujar Dedek Prayudi.

Lalu, Dedek Prayudi juga menegaskan bahwa hubungan kedua negara tersebut memang sudah berlangsung sejak lama.

"Hubungan antara dua kutub ini dingin sudah lama. Walau dianggap duri dalam daging, antara Fatah dengan Hamas memang tidak berkonflik sampai Arafat meninggal," kata Dedek Prayudi.***

Editor: Muhamad Gilang Priyatna

Sumber: Twitter @Uki23

Tags

Terkini

Terpopuler