Relawan Brasil Meninggal Usai Uji Coba Vaksin AstraZeneca, Universitas Oxford: Tak Perlu Khawatir

22 Oktober 2020, 10:35 WIB
Ilustrasi vaksin. //Pexels//cottonbro

PR DEPOK - Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa mengatakan bahwa seorang relawan dalam uji klinis vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford telah meninggal meski tahap pengujian akan terus dilakukan.

Dikutip Pikiranrakyat-depok.com dari Reuters, Oxford mengonfirmasi rencana untuk terus melakukan pengujian dengan mengatakan, setelah menilai beberapa pertimbangan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang keamanan uji klinis.

Sementara itu, pihak AstraZeneca menolak berkomentar terkait hal tersebut.

Baca Juga: Salahgunakan Wewenang Selama Kampanye Pilkada, Bawaslu Diskualifikasi Enam Paslon Petahana

Universitas Federal Sao Paulo, yang membantu mengoordinasikan uji klinis fase 3 di Brasil, mengatakan komite peninjau independen juga merekomendasikan uji coba tetap dilanjutkan.

Sebelumnya, universitas telah mengkonfirmasi bahwa relawan yang meninggal itu adalah orang Brasil, serta dilaporkan relawan tersebut adalah seorang pria berusia 28 tahun yang tinggal di Rio de Janeiro dan meninggal karena komplikasi Covid-19.

"Semuanya berjalan seperti yang diharapkan, tanpa catatan komplikasi serius terkait vaksin yang melibatkan relawan yang berpartisipasi," kata juru bicara Universitas Brasil dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Wanita yang Ditemukan dalam Mobil Terbakar di Sukoharjo Disebut Ada Hubungan Darah dengan Jokowi

Sejauh ini, lanjutnya, 8.000 dari 10.000 relawan yang direncanakan dalam uji coba telah diberikan dosis pertama di enam kota di Brasil, dan banyak yang telah menerima suntikan kedua.

Usai kejadian tersebut, saat ini saham AstraZeneca turun 1,8 persen.

Pemerintah Brasil, berencana untuk membeli vaksin dari Inggris dan memproduksinya di pusat penelitian biomedis FioCruz di Rio de Janeiro.

Baca Juga: 11 Pekerja Tambang Meninggal Akibat Tertimbun Longsoran Dinding Tanah Sedalam 8 Meter

Sedangkan vaksin pesaing dari Tiongkok Sinovac Biotech Ltd sedang diuji oleh pusat penelitian negara bagian Sao Paulo Butantan Institute.

Namun, Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengatakan pada Rabu bahwa pemerintah federal tidak akan membeli vaksin Sinovac.

Diketahui, Brasil memiliki wabah virus Covid-19 paling mematikan kedua, setelah Amerika Serikat, dengan lebih dari 154.000 orang tewas.

Brasil juga menjadi jumlah kasus terbesar ketiga, dengan lebih dari 5,2 juta terinfeksi, setelah Amerika Serikat dan India.***

Editor: Ahlaqul Karima Yawan

Sumber: Reuters

Tags

Terkini

Terpopuler