Kritik dengan Mural Dinilai Biasa, Rizal Ramli: Apalagi Kata Soekarno, Orang Indonesia Pintar Ekspresikan Rasa

- 23 Agustus 2021, 16:35 WIB
Ekonom senior, Rizal Ramli.
Ekonom senior, Rizal Ramli. /Twitter @RamliRizal

PR DEPOK – Politisi Rizal Ramli menyebut kritik yang disampaikan melalui mural ataupun graffiti merupakan hal biasa di dunia demokrasi.

Apalagi kata Rizal Ramli, Presiden RI ke-1 Soekarno pernah mengatakan bahwa orang Indonesia pintar mengekspresikan rasa.

Sebab, orang Indonesia memiliki artistenvolk atau berjiwa artis dan gevoels-mens atau manusia seni.

Baca Juga: Asisten Raffi Ahmad, Sensen Ngeluh di Instagram: Capek Banget Diginiin Terus

Ungkapan itu disampaikan Rizal Ramli melalui cuitan di akun Twitter @RamliRizal, pada Senin, 23 Agustus 2021.

Apalagi kata Sukarno orang Indonesia artistenvolk (berjiwa artis) & gevoels-mens (manusia seni) yang pintar mengekspresikan rasa,” ujar Rizal Ramli, seperti dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari Twitter @RamliRizal.

Namun kini menurut Rizal Ramli, situasinya sudah menakutkan, sebab kritik yang disampaikan melalui mural, kini justru dimusuhi.

Cuitan Rizal Ramli.
Cuitan Rizal Ramli.

Tapi hari ini mural dimusuhi, menakutkan,” tutur menjelaskan.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ahmad Massoud, Pemimpin Kelompok Anti-Taliban dari Lembah Panjshir yang Siap Perangi Taliban

Seperti diketahui, sempat ramai diperbincangkan mural yang mirip Presiden Joko Widodo dengan tulisan “404:Not Found” di wajahnya.

Gambar mural mirip Jokowi itu terletak di wilayah Batu Cepet, Kota Tangerang.

Namun, mural tersebut dihapus oleh pihak kepolisian lantaran dianggap telah menghina presiden sebagai lambang negera.

Tidak sedikit juga pihak yang menyayangkan penghapusan mural mirip Jokowi tersebut.

Baca Juga: Cek Nama Penerima BPUM 2021 Pakai KTP di Link Ini untuk Cairkan Rp1,2 Juta

Menurut mereka, penghapusan mural tersebut sebagai bentuk anti kebebasan dari pemerintah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rizal Ramli mengatakan dalam cuitannya, bahwa kritik yang disampaikan melalui mural ataupun graffiti aktivitas biasa dalam demokrasi.

Akan tetapi, kritik yang disampaikan melalui mural, kini justru dimusuhi.*** 

Editor: Ahlaqul Karima Yawan


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah