Media dalam Sorotan Politik, Melampaui Batasan Independensi

- 11 September 2023, 14:23 WIB
Media adalah kekuatan dan seringkali digunakan sebagai alat politik oleh partai politik dan politisi tertentu.
Media adalah kekuatan dan seringkali digunakan sebagai alat politik oleh partai politik dan politisi tertentu. /Engin_Akyurt/Pixabay

PR DEPOK - Seperti yang diketahui media adalah sebuah kekuatan yang dapat membentuk pandangan masyarakat, dan seringkali digunakan sebagai alat politik oleh partai politik dan politisi tertentu.

 

Ini terutama terjadi dalam ranah media penyiaran, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2 Media), Amir Effendi Siregar, dalam sebuah diskusi bertajuk "Independensi Media Penyiaran di Tahun Politik."

Media penyiaran, seperti televisi dan radio, memanfaatkan frekuensi publik dalam menyebarkan pesan mereka. Oleh karena itu, jika isi siaran media tersebut terkait dengan kepentingan politik segelintir golongan, hal ini dapat memunculkan pertanyaan tentang independensinya.

Dikatakan Amir, harus disadari bahwa media penyiaran menggunakan frekuensi publik. Oleh karena itu, jika kontennya sangat terkait dengan kepentingan politik kelompok tertentu, maka pertanyaan akan independensinya muncul.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Ayam Bakar di Wonosobo yang Paling Top Markotop, Sudah Mampir?

"Media penyiaran seperti televisi dan radio itu mereka menggunakan frekuensi publik. Dengan begitu jika materi siarannya bermuatan kepentingan politik dari segelintir golongan tentunya mereka tidak benar," katanya, dikutip dari situs resmi Kominfo.

"Berbeda halnya jika mereka menggunakan media cetak yang tidak menggunakan ranah publik. Media cetak lebih bebas daripada media penyiaran untuk dimanfaatkan pemiliknya," katanya lagi.

 

Di sisi lain, media cetak memiliki lebih banyak kebebasan karena mereka tidak menggunakan frekuensi publik. Ini memberikan pemilik media cetak lebih banyak ruang untuk menggambarkan pandangan politik mereka. Namun, ada risiko yang harus mereka pertimbangkan.

Amir Effendi memberikan contoh bagaimana beberapa politisi dapat menggunakan media mereka untuk kepentingan politik pribadi. Namun, dia menekankan bahwa resikonya adalah kehilangan pembaca jika isi media cetak hanya berfokus pada kepentingan politik pemiliknya.

Baca Juga: Ngeunah Pisan! Berikut Ini 7 Warung Mie Ayam Paling Maknyus di Majalengka, Catat Alamatnya di Sini

"Terserah pemilik jika berbicara masalah media cetak. Tapi resikonya adalah jika pembaca tidak menyukai isinya yang melulu tentang kepentingan politik pemilik media. Ujung-ujungnya koran itu bisa dibuang ke tong sampah," kata dia.

Dalam diskusi tersebut, Amir menyatakan keyakinannya bahwa dunia media akan menghadapi dilema khususnya menjelang tahun politik, seperti Pemilu.

 

Hal ini karena "newsroom" atau ruang redaksi media dapat diintervensi oleh kekuasaan tertentu, seperti pemilik media atau kepentingan politik yang lebih besar.

Meskipun begitu, Amir Effendi juga menekankan bahwa tidak ada media yang benar-benar independen secara mutlak. Namun, yang ada adalah usaha dari berbagai media untuk mendekati nilai-nilai independensi sebaik mungkin.

Baca Juga: Pertimbangkan Kepadatan Penduduk, TransJakarta akan Tambah Rute Baru di Jakarta Utara

Dalam era yang terus berubah dengan pesat, menjaga independensi media adalah tugas penting untuk memastikan bahwa informasi yang diterima masyarakat tetap seimbang dan jujur, tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik atau kekuatan tertentu.

Media memiliki peran penting dalam membentuk pandangan dunia kita, dan harus dilindungi agar dapat berfungsi sebagai pilar yang kuat dalam demokrasi.***

Editor: Tyas Siti Gantina


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah