Mutasi Covid-19 di Cilacap Menular 3 Kali Lebih Cepat, Kemenkes Catat Lonjakan Kasus Baru Termasuk Nakes

- 28 Mei 2021, 13:33 WIB
Ilustrasi covid-19 varian baru.
Ilustrasi covid-19 varian baru. /Unsplash/JC Gellidon

PR DEPOK - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan laju penularan varian baru Covid-19 lebih cepat hingga tiga kali lipat dibandingkan virus serupa yang sudah lebih dulu berada di Indonesia.

"Laju penularannya sekitar 3,35 kali lipat dibandingkan target kita yang seharusnya kurang dari 0,9 atau paling tinggi satu kali lipat kalau ingin mendefinisikan kasus itu tidak menular secara berat," kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dikutip Pikiranrakya-Depok.com dari Antara.

Analisis ini dirilis berdasarkan pengamatan Kemenkes terhadap kasus yang terjadi di Cilacap, Jawa Tengah (Jateng).

Baca Juga: 2 Rute Baru TransJakarta Mulai Beroperasi, Summarecon Bekasi-Kuningan dan Summarecon Bekasi-Blok M

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II-A Cilacap melakukan pemeriksaan kekarantinaan kesehatan terhadap 20 anak buah kapal (ABK) pada Selasa, 25 Mei 2021 usai melakukan perjalanan dari India.

"Dari 20 ABK, kami periksa skrining genomik. Ternyata, ada 14 kasus mutasi virus yang menular pada 31 tenaga kesehatan. Ini memperlihatkan bagaimana agresifnya penularan dari virus yang masuk dalam klasifikasi Variant of Concern (VoC) WHO kepada orang lain," katanya.

Usai dilakukan pelacakan kasus kepada keluarga, pihaknya mencatat 12 kasus kontak erat.

"Meski tenaga kesehatan saat kontak dengan ABK sudah pakai alat pelindung diri (APD), kita tracing lagi dari keluarga kemudian ketemu 12 kasus lagi," ucapnya,

Baca Juga: Terkait Konflik Israel dan Hamas, PBB akan Luncurkan Penyelidikan Internasional

Pelacakan berlanjut pada kejadian kontak dari keluarga tenaga kesehatan, hingga ditemukan kembali 6 kasus lainnya.

"Kita harus ada gerakan antisipasi supaya perubahan secara endogen tidak berpengaruh pada penyebaran kasus. Peningkatan kasus adalah kombinasi mobilisasi penduduk dan perubahan pola varian kasus secara mutasi," ucapnya.

Indonesia sedang meningkatkan aktivitas surveilans genomik guna mendeteksi dini mutasi Covid-19 dengan 1.744 sampel yang telah diperiksa Indonesia.

"Seluruh daerah wajib mengumpulkan 5 sampai 10 sampel setiap pekan. Kita periksa dan lihat berapa jumlah VoC. Dari hasil evaluasi, ada 54 kasus mutasi yang terjadi di Indonesia, 35 kasus di antaranya VoC berasal dari luar Indonesia dan 19 di antaranya tidak ada kontak dengan Indonesia. Artinya tidak ada penyebaran kontaminasi lokal di Indonesia untuk VoC yang terjadi secara mutasi," tuturnya.***

Editor: Ahlaqul Karima Yawan

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah